Proses
pengolahan dan penyimpanan bisa membuat gizi pada bahan makanan hilang
atau rusak. Karena itu, perlakukan bahann makanan sebaik mungkin, jangan
asal memasukkannya ke lemari pendingin. Cara mengolah makanan
berpengaruh terhadap kualitas nutrisinya. Secara umum, tulis William
Sears, MD, dan Martha Sears, RN, dalam The Family Nutrition Book,
semakin sedikit pemrosesan, makin baik.
Nilai
gizi makanan segar lebih baik ketimbang yang dibekukan, tetapi gizi
makanan beku masih lebih baik dibanding
makanan kalengan. Sayuran yang
dibekukan sesaat setelah dipanen berisi lebih banyak vitamin daripada
sayuran segar yang langsung diangkut melintasi wilayah untuk dipasarkan.
Ada
sejumlah pertukaran zat gizi saat Anda memilih sayuran yang dikemas dan
diproses. Contohnya, sayuran kalengan dan beku mengandung lebih banyak
sodium. Satu porsi brokoli beku bisa mengandung lebih banyak betakaroten
karena batangnya sudah dibuang, hanya menyisakan kuntumnya saja. Namun,
brokoli ini hanya mengandung sedikit kalsium dan lebih banyak sodium.
Jadi sesering mungkin, hidangkan sayuran segar bagi keluarga, sehingga
mereka terbiasa terhadap rasa yang lebih bervariasi dan lebih kuat.
Mengukus
sayuran melindungi lebih banyak zat gizi dan rasa sayuran segar
daripada direbus yang melarutkan beberapa zat gizi ke dalam air. Memasak
menggunakan microwave juga melindungi zat gizi pada sayuran.
Hindari
memotong sayuran terlalu lama sebelum dimasak. Jarak yang terlalu lama
antara saat memotong sayuran atau buah dengan memasak bisa menimbulkan
kerusakan. Alasannya, potongan sayur maupun buah dapat terpapar papas,
cahaya, dan oksigen, si perusak zat gizi. Lebih baik potong sayuran atau
buah saat akan dimasak atau dimakan.
Menurut
Melinda Hemmelgarn, MS, RD, ahli ilmu gizi lanjutan seperti dikutip
University of Missouri Extension, panas, cahaya, dan oksigen merupakan
tiga perusak alami vitamin pada buah dan sayuran. Walau demikian,
memasak (dengan proses yang minimal) dan metode penyimpanan dapat
mempertahankan zat gizi.
Untuk
itu, Good Health & Medicine membagi tip bagi Anda untuk mendapat
manfaat yang optimal dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi.
Menyimpan Makanan
Konsumsi
buah paling baik adalah saat sudah matang. Buah yang terlalu matang
mengandung lebih banyak gula, sehingga kadar indeks glikemiknya (IG)
lebih tinggi. Indeks glikemik merupakan ukuran seberapa cepat
karbohidrat dicerna, masuk kedalam aliran darah, dan meningkatkan kadar
gula darah.
Makanan
dengan IG rendah masuk ke aliran darah secara perlahan dan tidak
terlalu cepat memicu respon insulin, sehingga membuat kadar gula darah
lebih stabil.
Ahli
gizi, Judith Wills, penulis buku The Food Bible, menyarankan untuk
menyimpan buah, sayuran, dan salad dalam kondisi dingin dan gelap
seperti dalam lemari es atau pantry."Cahaya dan panas akan merusak
vitamin B dan C. Menyimpan buah dalam mangkuk besar di atas meja sangat
tidak disarankan," ujar Wills.
Dibekukan
Berlawanan
dengan keyakinan pada umumnya, buah dan sayuran beku kerap mengandung
lebih banyak zat gizi daripada yang segar. Hal ini karena pangan
tersebut dibekukan segera setelah dipanen.
Asosiasi
konsumen di Inggris menguji sejumlah buah dan sayuran yang telah
disiapkan seperti kol brussel dan melon potongan dengan menggunakan
kadar vitamin C sebagai indikasi seberapa segar dan bergizinya makanan
itu.
Mereka menjumpai, beberapa di antaranya memiliki kurang dari setengah jumlah vitamin C yang dikandung saat baru dipanen.
Direbus dan Dikukus
Selain
membuat makanan terasa lebih enak, memasak akan melemahkan struktur
tumbuhan, membuat zat gizi sayuran labih mudah diserap tubuh manusia.
Sayang, beberapa metode pemasakan dapat secara negatif memengaruhi nilai
nutrusi itu.
Merebus
sayuran dapat menghiiangkan vitamin C dan beberapa vitamin B yang
memang bersifat larut air. Merebus dalam waktu lama juga dapat
memengaruhi indeks glikemik makanan.
Menurut
ahli diet, Nigel Denby, "IG dipengaruhi oleh zat pati seperti amilosa
dalam nasi. Zat pasti akan dipecah bila dimasak terlalu lama, membuatnya
lebih mudah dicerna dan gula dapat dilepaskan dengan cepat ke aliran
darah." Mengukus mempertahankan zat gizi hingga sekitar 82 persennya.
Digoreng
Tak
dipungkiri, menggoreng akan menambah kalori pada makanan. Meski begitu,
menggunakan minyak dalam jumlah moderat bisa menjadi cara menyehatkan.
Selain cepat matang juga meminimalkan kerusakan akibat panas.
"Menggoreng akan menahan vitamin B dan vitamin C yang larut air," ujar
Wills.
Sayuran
yang tinggi karotenoid (kelompok antioksidan) lebih baik dimasak atau
dimakan dengan sedikit minyak. sementara wortel atau tomat baik bila
ditumis.
Dipanggang atau Dibakar
Metode
ini merupakan alternatif yang lebih sehat ketimbang menggoreng.
Menggunakan alas memasak dengan rak secara khusus akan efektif terutama
untuk daging olahan.
Wills
setuju bahwa metode ini merupakan pilihan paling menyehatkan, tetapi
perlu ditekankan bahwa membakar makanan terlalu lama hingga menimbulkan
warna kehitaman bisa menghasilkan bahan kimia pencetus kanker.
Menggunakan Microwave
Sejumlah
penelitian menunjukkan bahwa memasak menggunakan microwave merupakan
cara paling efektif untuk mempertahankan vitamin larut air seperti
vitamin C karena paparan panas berkurang dan sedikit air digunakan.
Sayang,
hal ini dapat merusak antioksidan larut lemak. Sebuah penelitian yang
dimuat dalam Journal of The Science of Food and Agriculture
mengungkapkan, brokoli yang dimasak dengan microwave kehilangan
antioksidan hingga 97 persen.
Ditumbuk
Kentang
tumbuk atau pure tidak hanya menambah kalori bila ditambah susu dan
mentega, juga meningkatkan indeks glikemik. Makanan yang dipecah menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil, juga dicerna lebih cepat. Bila sulit
menghindarinya, coba mencampurnya dengan jeruk.
Dipanaskan Kembali
Saat
Anda memanaskan masakan untuk kedua kalinya, tak terelakkan lagi, akan
lebih banyak zat gizi yang rusak. Bila makanan perlu disimpan, Wills
menekankan harus didinginkan dulu dan segera disimpan di lemari es atau
freezer. "Tutup dan simpan di tempat yang dingin. Vitamin B dan C akan
berkurang jika makanan dibiarkan hangat terlalu lama atau terlalu
panas," ungkap Wills.
Konsumsi Mentah
Ahli
gizi Patrick Holford meyakini konsumsi makanan mentah seperti wortel
atau bit akan memaksimalkan kandungan gizinya karena antioksidan
sensitif terhadap panas dan air. Namun, ada efek sebaliknya dari
mengonsumsi makanan mentah. "Bisa sulit dicerna karena serat perlu
dipanaskan supaya lunak. Proses memasak juga membuat beberapa zat gizi
lebih mudah tersedia seperti likopen pada tomat," ujarnya. Buah paling
baik dikonsumsi mentah atau segera dimakan setelah dipotong.
Selamatkan Air Rebusannya
Beberapa saran untuk mempertahankan nutrisi dalam makanan yang dimasak seperti dikutip dari situs Better Health Channel ini.
•
Simpan makanan secara tepat seperti menjaga makanan dingin tetap dingin
dan menutup beberapa jenis makanan dalam tempat kedap udara.
• Cuci atau gosok sayuran, bukan mengupasnya.
• Gunakan daun sayuran paling luar lebih dulu, misalnya kubis atau daun selada, kecuali daun sudah layu atau sudah tidak enak.
• Masak sayuran dengan mikrowave, mengukus, membakar, atau memanggang ketimbang merebusnya.
• Bila Anda merebus sayuran, selamatkan air yang mengandung zat gizi untuk membuat sup.
• Gunakan bahan-bahan segar bila memungkinkan.
• Masak makanan dengan cepat.
Pastikan...
• Tidak merendam sayuran mentah dalam air. Tindakan ini dapat menyebabkan vitamin yang larut air akan hilang.
•
Tidak membiarkan buah menjadi terlalu matang. Buah yang terlalu matang
atau ranum akan meningkatkan indeks glikemik secara drastis.
• Tidak meninggalkan makanan yang telah dimasak semalaman dan kemudian memanaskannya.
•
Tidak memasak makanan yang mengandung zat pati seperti kentang terlalu
matang. Hal ini dapat meningkatkan kadar indeks glikemik.
•
Tidak memotong sayuran dalam ukuran kecil. Permukaan potongan sayur atau
buah bisa terpapar papas, cahaya, dan oksigen yang bisa merusak zat
gizi.
•
Selalu menggunakan pisau tajam. Menggunakan pisau tumpul saat memotong
sayuran segar dapat menyebabkan kerusakan sel yang akhirnya menimbulkan
kehilangan vitamin C.
Hanya Memperpanjang Kualitas
Lemari
pendingin menjadi tempat baik untuk menyimpan makanan. Apa Anda tahu
makanan apa saja yang sebaiknya tidak dimasukkan ke lemari pendingin
atau kulkas? Kapan Anda mesti memasukkan makanan ke dalam kulkas? Dan
berapa lama makanan tetap aman dan segar dalam kulkas?
•
Kulkas sebaiknya dipasang pada suhu 4 derajat Celsius atau kurang. Suhu
ini cukup membantu memperlambat proses enzimatik dan pertumbuhan
bakteri, tetapi tidak terlalu dingin untuk memengaruhi kualitas makanan
dengan adanya kristal es yang terbentuk. Ada baiknya memasang termometer
kulkas guna memastikan suhu yang cukup rendah bagi keamanan pangan.
•
Selalu tutup makanan dalam lemari es. Udara di dalam kulkas sangat
kering, sehingga makanan akan mudah kering, kehilangan kualitas, dan
menjadi tidak menarik dalam waktu singkat. Menutup makanan juga mencegah
makanan lunak seperti produk susu menyerap bau dari makanan lain,
seperti kubis.
• Suhu
dingin kulkas memperlambat proses enzim dalam makanan dan juga
reproduksi bakteri. Hal ini memperpanjang kualitas, rasa, dan tekstur
makanan, serta menjaga makanan aman lebih lama. Patut diperhatikan bahwa
kulkas tidak membunuh bakteri dan tak dapat memperbaiki kualitas
makanan.
•
Jangan mengisi kulkas terlalu penuh. Pastikan selalu ada ruang yang
cukup antara makanan yang bisa membuat udara bebas bersirkulasi di
antaranya. Dengan begitu, suhu akan lebih merata.
•
Gunakan termometer kulkas untuk mengecek suhu kesegaran dan rak-rak.
Bagian paling dingin dalam kulkas bukan tempat untuk menyimpan makanan
yang rentan seperti daun selada dan buah lembut misalnya pepaya.
•
Makanan yang perlu didinginkan sebaiknya dimasukkan ke kulkas setidaknya
dalam waktu 2 jam setelah dimakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
• Bersihkan kulkas setiap tiga minggu sekali. Buang sayur, buah, dan makanan yang sudah tidak dapat dikonsumsi.
Sumber: http://www.dechacare.com/Supaya-Bahan-Makanan-Tidak-Kehilangan-Gizi-I152.html


0 komentar:
Posting Komentar